Kamis, 08 Oktober 2009

Bersabarlah!

Bersabarlah!

Kehidupan seseorang di dunia ini tidak pernah terlepas dari dua keadaan, keadaan mendapatkan kenikmatan ataupun
keadaan mendapatkan musibah. Kewajiban seorang muslim adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan dan
bersabar ketika mendapatkan musibah. Inilah keadaan yang hanya dimiliki oleh muslim sejati, bagaimanapun keadaan
yang dialaminya, dia selalu dalam kebaikan dan tetap masih bisa menuai pahala. Bersabar bagi seorang muslim adalah
suatu keharusan, karena inilah yang diperintahkan ketika seorang muslim menghadapi musibah. Sabar merupakan
kewajiban bagi seorang muslim berdasarkan Al Quran, As Sunnah, Ijma', dan juga akal yang sehat.

Hadits Tentang Sabar

Di antara hadits Rasulullah yang menunjukkan kewajiban bagi seorang muslim untuk bersabar adalah hadits berikut.

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, dia berkata: "Rasulullah melewati seorang wanita yang sedang menangis di
samping sebuah kubur, kemudian beliau bersabda: 'Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!' Kemudian wanita itu
berkata: 'Menjauhlah dariku! Sesungguhnya engkau tidak mengetahui musibah yang aku alami.' Wanita tersebut tidak
mengetahui siapa yang berbicara tadi. Kemudian ada yang berkata kepadanya: 'Dia adalah Nabi.' Kemudian wanita
tersebut mendatangi rumah nabi dan tidak mendapatkan penjaga di rumah nabi, kemudian berkata, 'Aku tidak
mengetahui bahwa engkau adalah nabi.' Rasulullah bersabda: 'Sabar itu hanyalah pada saat tertimpa musibah yang
pertama kali.'" (Muttafaqun 'alaihi). Dan dalam riwayat Muslim, "Menangis atas kematian anaknya." (HR. Bukhori 1283
dan Muslim Muslim 926)

Penjelasan Global Hadis

Dari Anas radhiallahu 'anhu bahwasanya nabi melewati seorang wanita yang berada di samping kuburan anak kecil
yang telah meninggal. Wanita ini sangat mencintainya sehingga tidak mampu menahan diri untuk tidak menangis. Ketika
Rasulullah melihatnya beliau memerintahkan wanita tersebut untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar. Rasulullah
bersabda kepada wanita tersebut: "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Kemudian wanita tersebut berkata:
"Menjauhlah dariku! Sesungguhnya engkau tidak mengalami musibah seperti yang aku alami." Hal ini menunjukkan
terkadang musibah menimpa seseorang dengan cobaan yang berat. Kemudian nabi meninggalkan wanita tersebut.

Kemudian dikatakan kepada wanita tersebut bahwasanya yang berbicara kepadanya tadi adalah Rasulullah. Wanita
tersebut menyesal kemudian menemui Rasulullah dan tidak ada seorang pun yang menghalanginya untuk masuk ke
rumah beliau. Kemudian wanita tersebut bercerita dan mengatakan, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui kalau engkau
adalah Rasulullah." Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Yang disebut sabar itu hanyalah pada saat
tertimpa musibah yang pertama kali." Sabar yang berpahala adalah sabar pada saat pertama kali musibah menimpa
dirinya. Inilah hakikat sabar.

Pengertian dan Macam-Macam Sabar

Sabar secara bahasa berarti menahan. Secara istilah syar'i yaitu menahan jiwa dari tiga perkara: dalam melaksanakan
ketaatan kepada Allah, dari meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah, dan dalam menerima takdir yang telah
ditetapkan Allah. Seseorang harus sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah karena terkadang ketaatan
menimbulkan keberatan dalam jiwa sehingga seseorang menjadi sulit dalam melaksanakannya. Terkadang ketaatan
juga berat bagi badan sehingga menimbulkan kelelahan. Demikian juga dalam melakukan ketaatan menimbulkan
kesusahan berupa harta seperi pada saat melaksanakan zakat dan haji.

Sabar dalam meninggalkan segala sesuatu yang Allah haramkan yaitu seseorang menahan diri dari segala sesuatu
yang Allah haramkan karena nafsu yang jelek selalu mengajak kepada kejelekan, sehingga seseorang harus bisa
menahan jiwanya. Seseorang tatkala menahan jiwa dan nafsunya dari melaksanakan kemaksiatan sehingga dia tidak
melaksanakannya membutuhkan kesabaran

Seseorang juga harus sabar dalam menghadapi takdir Allah yang buruk, baik berupa ujian fisik, harta, keluarga, dan lainlain,
maka dibutuhkan kesabaran. Dia harus bersabar dari menampakkan kegelisahan dengan lisan, hati, maupun
anggota badannya. (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin, Syaikh Ibnu 'Utsaimin).

Tingkatan Dalam Menghadapi Musibah

Seseorang berbeda-beda sikapnya tatkala menghadapi musibah. Keadaan manusia dalam menghadapi musibah terbagi
dalam empat golongan:

1. Marah

Keadaan ini adalah keadaan orang-orang yang marah dalam menghadapi musibah, baik marah dengan hatinya,
dengan lisannya, atau dengan anggota badannya. Marah dalam hatinya, misalnya dia marah dan benci kepada Allah
dan merasa seolah-olah Allah menzaliminya dengan musibah tersebut. Marah dengan lisannya, misalnya dengan
berdoa dengan kecelakaan. Marah dengan anggota badan, misalnya dengan menampar pipi dan kepala, menjambak
rambut, dan merobek pakaian, dan yang semisalnya. Marah dalam menghadapi musibah ini adalah haram karena
menyelisihi sabar yang diwajibkan. Ini adalah keadaannya orang-orang yang celaka yang tidak mendapatkan balasan
dari musibah yang dialaminya, bahkan dia mendapatkan dosa. Maka orang seperti ini dia mendapatkan dua musibah
sekaligus, musibah dalam agamanya berupa murka Allah dan musibah dunia yang dialaminya.

2. Sabar

Keadaan ini adalah keadaan bersabar dalam menghadapi musibah dengan menahan nafsunya. Dia benci dan tidak
suka dengan musibah yang terjadi, akan tetapi dia menahan nafsunya dari berkata-kata yang menimbulkan murka Allah,
melakukan perbuatan yang mendatangkan azab Allah, dan tidak ada dalam hatinya kebencian terhadap Allah. Dia
bersabar, akan tetapi dia tidak suka musibah tersebut menimpa dirinya. Bersabar adalah wajib karena Allah dan Rasul-
Nya telah memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman,


"Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al Anfal: 46)

3. Ridho

Pada keadaan ini seseorang ridho dan merasa lapang dada dengan musibah yang dialaminya. Ia benar-benar ridho
seolah-olah musibah tersebut tidak menimpanya. Ridho ketika menghadapi musibah hukumnya adalah sunnah.

4. Syukur

Keadaan terakhir adalah seseorang bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpa dirinya. Rasulullah apabila
melihat sesuatu yang beliau tidak suka beliau mengucapkan "Alhamdulillahi 'ala kulli haal." (Segala puji bagi Allah dalam
setiap keadaan). Bersyukur kepada Allah karena Allah memberinya pahala atas musibah yang dia alami lebih besar
daripada musibah yang dia rasakan. Tingkatan ini adalah tingkat yang paling tinggi, karena dia bersyukur kepada Allah
terhadap musibah yang menimpanya. Karena dia tahu, bahwa musibah ini merupakan sebab ditutupnya kejelekankejelekannya
dan barangkali untuk menambah kebaikan-kebaikannya. Nabi bersabda yang artinya, "Tidak ada satu
musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali Allah akan menutupi dosa dengannya, meski sekedar duri yang
menusuknya." (Muttafaqun 'alaihi). (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin dan Majmu' Fatawa, Syaikh Ibnu 'Utsaimin).

Untaian Hikmah Hadits

Hadits di atas memilki beberapa pesan di antaranya:

Pertama, betapa bagus akhlak Rasulullah dan cara beliau dalam mendakwahkan kebaikan. Hal ini dapat kita lihat ketika
beliau melihat seorang wanita yang sedang menangis di samping kubur, beliau memerintahkannya untuk bertakwa
kepada Allah dan bersabar. Tatkala wanita tersebut berkata, "Menjauhlah dariku!" Rasulullah tidak marah kepadanya,
tidak memaksanya, dan tidak memperlakukannya dengan keras karena beliau mengetahui bahwa dia tidak mampu
mengontrol dirinya karena kesedihan yang menimpanya. Oleh karena itu ia keluar rumah dan menangis di samping
kubur.

Kedua, seseorang itu dimaafkan karena dia tidak tahu, baik tidak tahu hukum syar'i maupun jahil terhadap keadaan yang
sebenarnya. Ketika wanita tersebut berkata kepada Rasulullah: "Menjauhlah dariku!" padahal Rasulullah
memerintahkannya dengan kebaikan, bertakwa, dan bersabar. Akan tetapi wanita tersebut tidak mengetahui kalau lawan
bicaranya adalah Rasulullah, maka Rasulullah memaafkannya. Hal ini menunjukkan tawadhu'nya Nabi dan sikap beliau
yang lemah lembut terhadap orang yang tidak tahu.

Ketiga, menangis di sisi kubur menunjukkan sikap tidak sabar ketika menghadapi musibah karena Rasulullah bersabda
kepada wanita yang menangis di samping kubur: "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!"

Keempat, sabar terpuji adalah bersabar ketika pertama kali mendapatkan musibah, bukan setelah terlewatinya musibah.
Hal ini karena jika telah lewat waktu terjadinya musibah, maka musibah pun juga akan terlupakan, dan bersabar pada
saat itu tidak bermanfaat.

Kelima, tidak sepantasnya bagi seorang yang mempunyai kepentingan bagi kaum muslimin menjadikan di rumahnya
pengawal yang menghalangi manusia yang membutuhkannya untuk menemuinya (baca: satpam).

Keenam, seseorang yang diperintahkan dengan kebaikan hendaknya menerima dengan baik dan tunduk kepada
kebenaran walaupun dia tidak mengetahui siapa yang memerintahnya. (Lihat Syarah Riyaadhis Shoolihiin oleh Syaikh
Ibnu 'Utsaimin, dan Bahjatun Naadzirin Syarah Riyaadhis Shoolihin oleh Syaikh Salim Bin 'Ied Al Hilaly).

Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa bersabar di dunia ini, baik ketika melaksanakan ketaatan,
menghindari maksiat, dan menghadapi musibah. Wallahul musta'aan.

(sumber: http://www.muslim.or.id Jumat, 07 Desember 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahsanTV



- See more at: http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2013/08/cara-memasang-live-streaming-radio.html#sthash.23GE9Jq2.dpuf